Pada tanggal 6 Februari 2008 lalu saya membeli dua buku yaitu China Underground dan Perang Udara di Eropa. Pada awalnya saya hendak membeli komik untuk menambah koleksi bacaan hiburan saya di rumah, namun apa boleh buat komik terbaru yang terbit tidak terlalu menarik perhatian saya baik dari segi judul maupun gambar cover sampulnya sehingga saya mengalihkan diri dan bergerak menuju rak buku-buku non-fiksi. Ada beberapa buku yang saya anggap menarik akan tetapi akhirnya saya pertimbangkan dua buku itu terlebih dahulu yang akan saya bawa pulang dengan alasan ketersediaan stok buku yang menipis dan juga kelihatannya menarik.
Buku Perang Udara di Eropa diterbitkan oleh penerbitan Kompas dan disusun oleh Darma AJi. Kompas juga menerbitkan buku bertema Perang Dunia II lainnya dengan judul dan tema-tema yang berbeda pula. Sejauh ini buku terbitan Kompas yang berkaitan dengan Perang Dunia II dan berada dalam koleksi saya ada lima termasuk buku Perang Udara di Eropa ini. Judul buku lainnya adalah Perang Pasifik, dan Perang Eropa Jilid I, II dan III. Jika Perang Pasifik mengisahkan pertempuran yang terjadi selama invasi Jepang di Pasifik termasuk salah satunya pemboman pada Pearl Harbour dan juga usaha sekutu dalam pengambilalihan kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Jepang lewat pertempuran laut yang menegangkan maka Perang Eropa dan Perang Udara di Eropa mengisahkan pertempuran langsung di pusat bencana Perang Dunia II yaitu Benua Eropa.
Jika buku Perang Eropa mengisahkan ketatnya pertempuran darat di Eropa termasuk awal usaha-usaha Jerman dalam menguasai benua Eropa melalui Blietzkrieg (gerak kilat) armada lapis baja dan juga pasukan infantri hingga akhirnya pertempuran berakhir pada tahun 1945 dengan dikuasainya Berlin dan menyerahnya Jerman, maka Perang Udara di Eropa mengisahkan ketatnya pertempuran di atas langit Benua Eropa mulai dari usaha pesawat pencegat Inggris mencegah invasi Jerman dengan mematahkan usaha Luftwaffe (AU Jerman) pada serangkaian kampanye bombardemen pada kota-kota di Inggris untuk merontokkan moral rakyat Inggris hingga duel udara antara pesawat-pesawat tempur mutakhir di atas langit Benua Eropa.
Cerita dimulai dari kampanye pemboman kota Berlin pada awal Maret 1944 oleh armada pembom gabungan Inggris dan Amerika yang dikawal pesawat tempur pengawal pembom dengan tujuan menghancurkan dan melumpuhkan kawasan industri militer Jerman. Selain itu tujuan lainnya adalah menguji seberapa kuat sisa-sisa kekuatan Luftwaffe setelah serangkaian kampanye serangan udara sebelum-sebelumnya sekaligus memberi pengalaman tempur di atas langit Eropa pada para pilot tempur dan pembom sebelum pendaratan pasukan sekutu di pantai Normandia pada tanggal 6 Juni 2004. Kampanye ini relatif berhasil mengingat jumlah korban di pihak pesawat tempur pencegat Luftwaffe yang relatif besar meskipun tidak sedikit pula korban pesawat pembom yang jadi mangsa pesawat pencegat Luftwaffe dan meriam-meriam anti serangan udara-Flak Jerman di darat.
Dari sini cerita mundur ke tahun 1942 ketika Luftwaffe mendapatkan tugas untuk mengawal armada kapal tempur besar Angkatan Laut Jerman melintasi Selat Channel yang dikuasai Inggris. Serangkaian sorti penerbangan dikerahkan dengan tujuan agar kapal-kapal tersebut dapat tiba dengan selamat di pelabuhan Eropa untuk selanjutnya kapal-kapal tersebut akan dikonsentrasikan untuk mepertahankan wilayah Benua Eropa agar tidak mudah ditembus oleh armada Angkatan Laut Sekutu atau dengan kata lain difungsikan sebagai penggentar. Inggris yang tentu saja tidak tinggal diam wilayah lautnya dijadikan tempat lalu lintas kapal-kapal perang Jerman berusaha menghancurkan kapal-kapal perang Jerman tersebut dengan kekuatan laut dan udaranya. Meskipun demikian buruknya perencanaan dan koordinasi ditambah lagi cuaca yang kurang menguntungkan menyebabkan operasi ini gagal total. Yang perlu dicatat di sini adalah keterlibatan pesawat tempur era Perang Dunia I bersayap ganda dengan kokpit terbuka sebagai peluncur torpedo, meskipun tidak menuai keberhasilan keberanian pilot-pilotnya menantang langsung pesawat tempur pengawal armada AL Jerman yang kelasnya jauh di atas dan juga kapal-kapal tempur pantas diacungi jempol.
Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto dari pesawat-pesawat yang terlibat dalam pertempuran udara di Eropa yang sayangnya tidak memasukkan foto-foto pesawat-pesawat tempur Uni Soviet yang memang baru terlibat pada akhir-akhir pertempuran menjelang jatuhnya Berlin ke tangan pasukan Sekutu - Uni Soviet. Adapun foto-foto pertempuran di udara tidak ada, kebanyakan hanyalah peta arah penyerbuan pesawat pembom atau peta arah serangan mendadak baik dari Luftwaffe maupun dari pihak sekutu. Hal tersebut dapat dipahami mengingat tingginya risiko kematian di udara bagi seorang fotografer jika berada di belakang kokpit entah itu pesawat pembom atau pesawat pemburu-pencegat. Sebagai ganti foto-foto pertempuran udara tersebut dimasukkan foto-foto dari tokoh-tokoh terkenal baik dari pihak Luftwaffe maupun Sekutu yang menentukan dalam perang udara di atas Benua Eropa. Buku ini dilengkapi pula log-log kejadian secara mendetil setiap menitnya pada waktu perang udara dan kisah-kisah para pilot yang terlibat dalam pertempuran udara tersebut.
Akhir kata, bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah Perang Dunia II mungkin dapat mempertimbangkan buku ini untuk masuk ke dalam jajaran koleksinya meskipun cerita-cerita pertempuran di udara Eropa ini hanya melibatkan pertempuran antara Luftwaffe dan Sekutu tanpa melibatkan Uni Soviet yang perannya terasa sangat kecil dalam pertempuran udara di Eropa ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar